please enjoyed and have fun ;)

Sabtu, 09 Maret 2013

indahnya jilbab

Kuno, kampungan, dan katrok. Mungkin itulah gambaran yang sering ada dalam benak ku setiap kali ku lihat perempuan sebayaku, atau yang lebih dewasa , dan bahkan lebih muda dariku yang mengenakan jilbab. Aku selalu memandang sebelah mata tentang mereka yang telah menjalankan perintah Allah & RasulNYA. Kesan kampungan dan tidak fashionable lah yang selalu ku cap pada mereka. Ironisnya aku telah mengenal jilbab sejak aku kecil. Sejak aku belajar mengaji, dan melakukan sekolah agama tiap sore aku telah akrab mengenakan jilbab. Tapi sejak aku menyelesaikan sekolah agamaku dan jarang untuk belajar mengaji lagi, aku pun mulai jauh dengan penutup kepala itu. Saat itu aku hanya berfikir jika jilbab itu hanyalah pelengkap saat kita mengaji dan pergi ke sekolah agama. Jadi saat kegiatan itu tidak kujalankan lagi, akupun berfikir untuk tidak mengenakan jilbab lagi. Sedih lah sebenarnya jika ingat kejadian itu.

Hingga usia ku menginjak angka 20 tahun pun aku masih melenggang dengan aurat ku yang terumbar. Sebenarnya aku sadar bahwa Allah & RasulNYA memerintahkan perempuan muslim untuk menutup auratnya. Tapi entah setan jenis apa yang menutup mata & hatiku hingga aku dengan santainya mengabaikan perintahNYA. Segala sindiran dan ajakan untuk berjilbab pun tak pernah aku hiraukan. Aku justru mencaci mereka dengan ucapan yang sebenarnya tidak harus kuucapkan. Kubilang, "untuk apa mereka berjilbab kalau kelakuan mereka bahkan jauh lebih hina dari mereka yang hina, apa ga malu dengan jilbabnya yang terurai tapi shalat wajibpun tak satupun yang dikerjakan."  Ucapan-ucapan itulah yang menjadi dasar untuk ku menunda menutup aurat ini. "yang penting jilbabi saja hatinya dulu" "nunggu bener-bener siap & bener-bener baik dulu baru pake jilbab" Tunggu nanti tunggu nanti dan tunggu nanti. Kalimat-kalimat itulah yang selalu menjadi landasan ku. Image negatif dari beberapa teman perempuan yang hanya menjadikan jilbab sebagai topeng juga lah yang membuat ku menunda untuk kesekian kalinya.

Hingga sebuah kalimat "Tak akan mencium wangi surga seorang perempuan muslim sebelum ia menutup auratnya"  menggetarkan hatiku. Sujudku siang & malam kepadaNYA takkan pernah ada artinya jika tak kututup juga auratku. Aku pandangi wajah ini di depan cermin. Mungkinkah ini waktunya?

Perlahan kuambil sehelai kain berbbentuk segiempat & ku pakaikan menutupi rambutku. Mmenutupi kepalaku, menutup leherku, & menutupi dadaku. Manis, & indah. Aku seperti orang yang tengah dibuai cinta. Tak kukedipkan mata ini menikmati jilbabku yang terurai. Aku seperti merasakan kerinduan yang sangat dalam. Aku seperti merasa terlahir kembali dengan jiwa yang baru. Jiwa yang insyaallah adalah sebuah kefitrahan hati.

Yah, kupeluk lagi sahabat lamaku yang selama belasan tahun yang lalu kutelantarkan & tak pernah lagi kusapa. Kini dia selalu menemani hari-hari ku lagi. Menikmati bersama setiap hela nafas yang ku hirup. Mencoba bersama menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Karena ini bukan tentang sebuah kesiapan, tapi tentang sebuah kewajiban yang harus dijalankan.

Indahnya jilbab menjadikan kita merasa indah bersamaNYA ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar