Pernahkah kamu jatuh cinta yang begitu dalam pada satu orang meskipun dia tak bersamamu sampai kamu lupa bagaimana rasanya jatuh cinta lagi pada orang lain? Aahh, cinta. Sebenarnya akupun masih belum bisa memahami apa itu cinta yang sebenarnya. Rasanya aku sudah mati rasa pada sebuah perasaan yang sering orang-orang sebut dengan cinta. Aku hanya bisa merasakan bahwa aku sangat ingin memiliki satu orang itu. Apakah itu cinta? Atau hanya keegoisan semata?, entahlah. Aku pernah memiliki rasa cinta pada satu orang meski kemudian dia pergi. Pergi meninggalkan luka yang bekasnya saja sangat susah untuk dihilangkan. Pergi membawa separuh dari hidup, bahagia, & rasa cinta yang kumiliki. Aku tidak tahu apakah ini cinta, atau kebodohan. Bahkan sampai saat ini pun aku masih sangat susah untuk melepasnya. Aku hanya ingin dia. Egois, memang. Tapi aku tidak bisa memungkiri jika aku benar-benar merasakan jatuh cinta yang teramat padanya. Dia membuatku merasakan cinta yang begitu indah. Tapi dia juga yang membuatku merasakan luka yang begitu menyayat. Banyak orang-orang disekitar yang membantuku untuk move on. Istilah anak gaul sekarang yang ingin bisa melupakan seseorang. Tapi sepertinya aku telah terjangkit virus "sumo" stadium akut. Sebuah virus yang menyebabkan penyakit yang membuat pengidapnya susah untuk melupakan cintanya pada seseorang. Entah obat apa yang bisa menyembuhkan penyakit itu. Sumo, susah move on.
Hai, ini aku. Ini area kekuasaanku dimana aku bisa mengekspresikan diri sesuka hati. Aku hanya ingin menulis apa yang ingin aku tulis dan menumpahkan apa yang ada dalam pikiranku. Yang jelas, please enjoyed my blog and have fun with this. cekidoooottt ;)
Kamis, 18 Desember 2014
Jumat, 11 Juli 2014
Rindu Bocah Palestina
Aku baru saja melihat sebuah pemandangan yang sungguh sangat menyedihkan. Ketika aku baru saja melihat keceriaan anak-anak kecil yang kutemui semalam saat bermain kembang api, atau sekedar berlari berkejar-kejaran selepas tarawih. Dan sekarang aku disuguhkan dengan pemandangan bocah-bocah kecil Palestina tak berdosa yang harus dipaksa merasakan deru-deru rudal yang datang silih berganti. Merasakan sakitnya dentuman-dentuman bom atom yang menghantam tanah mereka. Ah, betapa pilunya keadaan mereka. Mereka yang tak bersalah dipaksa ikut merasakan kejamnya para zionis Israel yang telah kehilangan hati nuraninya. Ketika kami disini merasakan ketenangan dan kehangatan malam ramadhan, mereka harus terkaget oleh guncangan hebat dari rudal dan bom atom yang menderu. Mereka menangis, mereka bingung dengan apa yang terjadi. Mereka berfikir mengapa di bulan yang penuh berkah ini kami masih saja harus merasakan ketegangan yang mencekam. Kami ingin tenang menikmati bulan yang penuh hidayah ini. Kami ingin merasakan nikmatnya berbuka puasa dengan keluarga kami, dengan ayah kami, dengan ibu kami, dengan saudara-saudara kami. Kami ingin menikmati ketenangan sahur bersama mereka. Kami ingin menjalankan tarawih bersama mereka. Tapi, nyatanya ayah kami pun belum jg pulang. Dimana kau ayah? Aku disini menantimu bersama ibu dan saudara-saudara yang lainnya. Kami ingin ini semua segera berakhir. Kami ingin suara-suara rudal itu berganti dengan suara kembang api yang indah. Kami ingin rumah, masjid, dan sekolah kami yang telah rata dengan tanah bisa berdiri dengan kokoh lagi. Kami ingin tidur tenang dalam dekapan ibu yang menghangatkan. Bukan dengan ketakutan dan kecemasan akan adanya rudal yang datang menghantam lagi. Begitu banyak ingin kami, tapi satu yang sangat kami inginkan. Sebuah kedamaian dan ketenangan dalam hidup di tanah kami ini.
*uciuchyuchie*
Sabtu, 22 Februari 2014
Keindahan Dalam Bisu
Aku bisa merasakan hujan yang turun diluar sana. Merasakan setiap terpaan titik hujan mengena hingga kedalam hatiku. Aku menatap lurus keluar jendela dibalik ruangan penyiksaku. Meresapi setiap kepingan puzzle yang berserakan dalam hidupku. Butuh waktu yang lama untuk bisa menyelesaikan puzzle itu menjadi satu bagian utuh yang sempurna. Seharusnya aku tidak berada disini. Seharusnya aku berada dalam rumahku, dibalik kamar tidurku dengan kasur empuk yang membuatku nyaman, meringkuk hangat dengan selimut motif donal bebek berwarna biru kesukaanku, dan terlelap bersama Hazel, kucing himalaya kesayanganku. Tapi nyatanya, dunia seolah berputar begitu cepatnya hingga membuatku terjebak dalam ruangan sempit yang pengap dan membuatku seolah tak lagi hidup. Sekali lagi, aku bisa melihat sejarah kelam yang pernah terjadi dalam hidupku 4 tahun silam. Bak film layar lebar yang telah diputar ratusan kali, kau akan hafal setiap detail cerita dan scene yang terjadi. Aku selalu berharap bahwa ini adalah malam terakhirku menyaksikan film bodoh ini.
***
Aku tak pernah berharap lahir dengan keadaan seperti ini. Andaipun bisa aku memilih lebih baik aku memilih tak pernah bisa merasakan udara bumi ini daripada aku harus ada dengan takdir pahit yang terus menyapaku. Kau tahu, banyak yang bilang aku adalah gadis yang cantik dengan fisik yang kupunya sekarang. Rambutku panjang berwarna hitam legam, alis mataku berbentuk bulan sabit tanpa harus dibentuk dengan pensil alis. Bibirku berwarna merah alami tanpa harus dipulas dengan pewarna bibir. Pipiku merona merah meski agak sedikit chubby. Hidungku mancung sempurna. Mataku berkilau dengan bola mata hitam bagaikan biji buah leci. Kulitkupun begitu putih dan halus. Kau mungkin akan merasa iri dengan gambaran fisikku yang hampir mendekati sempurna andaikata aku tidak terlahir cacat dengan kakiku yang panjang sebelah dan mengharuskanku berjalan pincang. Ya, aku gadis 15 tahun, Renata si pincang. Itulah yang sering mereka sebut untuk memanggil namaku. Ingin sekali rasanya aku memaki mereka. Karena sungguh, demi apapun perkataan dan ejekan mereka sangat menyakiti hatiku. Tapi semakin aku membalas ejekan mereka, semakin menjadi pula ejekan mereka. Karena aku bukan saja pincang, tapi aku juga tak bisa bicara. Aku bisu. Semua yang melihatku seolah jijik dengan apa yang mereka lihat. Aku hanya bayangan hitam yang ada didekat mereka. Aku hanya benalu dalam hidup orang-orang disekitarku. Teman-teman sekolahku, lingkungan tempat tinggalku, bahkan keluargaku.
Pernahkah kalian melihat kucing kurap dengan bulu-bulu mereka yang sudah jarang hingga terlihat kulit tipisnya? Ditambah dengan tubuh ceking dan luka yang entah bekas apa disekitar wajahnya. Menjijikan bukan? Bagi sebagian orang pasti ingin sekali melemparinya dengan gagang sapu, atau benda apapun untuk mengusirnya. Bahkan tak banyak juga yang menyiramnya dengan air panas. Kejam bukan. Seperti itulah aku. Aku hanya seonggok manusia yang hidup dengan perlakuan orang-orang sadis yang menginginkan aku lenyap dari bumi ini. Yang memandangku sebelah mata, yang seolah kehadiranku adalah pertanda sebuah bencana yang maha dahsyatnya. Tak terkecuali keluargaku. Ya, bahkan keluargaku sendiripun tak pernah mengharapkan kehadiranku. Terlebih ibuku. Baginya aku hanyalah daging busuk yang seharusnya dibuang jauh-jauh ketempat sampah dan musnah bersama bangkai tikus got yang membusuk. 15 tahun aku hidup bersamanya, tapi selama itu pula tak pernah sedikitpun kurasakan kasih sayang ibuku padaku. Aku iri melihat Dayu, anak Bik Sri pembantu di rumahku yang usianya 3 tahun lebih muda dariku. Secara finansial hidupnya jauh dari kata cukup. Berbeda denganku yang memiliki banyak fasilitas dan uang yang bisa kugunakan untuk apa saja. Tapi Dayu memiliki seorang ibu yang teramat sangat menyayanginya. Tak pernah lupa Bik Sri menyiapkan bekal untuk sekolah anaknya setiap pagi. Dan selalu menciumnya hangat saat Dayu berpamitan berangkat sekolah. Sedangkan aku? Setiap pagi saat sarapan aku tak pernah melihat ibuku ada bersama dalam satu meja makan menikmati menu untuk mengganjal perut kami mengawali aktivitas. Ingin sekali aku bertanya pada ayahku. Karena hanya dia yang kuingat selalu berusaha melindungi dan menyayangiku. Ayah hanya tersenyum saat aku menatapnya dan seolah bertanya, 'dimana ibu? kenapa tak sarapan bersama dengan kita?'
"Ibumu ada urusan pekerjaan yang mengharuskannya pergi pagi-pagi dan tak sempat sarapan bersama kita"
Ah ayah, kau selalu tahu apa yang ada dalam pikiranku. Tapi sayang, kau tak pernah tahu bahwa aku telah hafal dengan jawaban itu. Karena sejak aku mengerti kosakataku dan bertanya kemana ibu tiap pagi hingga tak sempat sarapan dengan kita, selalu jawaban itu yang kau lontarkan dari mulut bijakmu. Tapi tak apa, lagipula aku telah terbiasa hidup dengan duniaku.
Aku lebih banyak diam didalam mobil saat ayah mengantarkanku berangkat sekolah. Karena aku memang lebih suka 'diam' meski sebenarnya aku begitu ingin berbicara. Menanyakan banyak hal yang selalu aku pendam sendiri. Seperti, mengapa dasi yang ayah pakai selalu saja berwarna hitam? Atau, bisakah suatu saat nanti aku mengenakan pakaian seperti yang ayah pakai? Karena jujur saja, aku sangat mengagumi ayahku saat berpakaian seperti itu.
Gerbang sekolah terlihat begitu jelas dengan tulisan besar yang terpampang "SELAMAT DATANG DI SMP GRACEVA". Hanya anak perempuan yang bisa merasakan megahnya bersekolah di SMP Graceva, dan yang pasti mereka harus berduit untuk bisa menjadi siswinya. Sekolahku adalah salah satu SMP favorit di kotaku dengan orang-orang sosialita dan konglomerat yang menyekolahkan anaknya disitu. Karena memang biaya sekolah itu sangat mahal. Akupun heran kenapa ayahku memasukkanku ke sekolah pemeras itu? Meski kutahu harta ayahku tak akan habis jika seandainya dia menyekolahkan 10 atau belasan anak seusiaku di sekolah itu. Ah lupakan tentang biaya itu. Karena sejujurnya aku sangat membenci sekolah itu. Bagaimana tidak? Sekolah yang seharusnya menjadi tempat menuntut ilmu beralih menjadi tempat menuntut popularitas dan kekuasaan. Siapa yang memiliki mobil mewah yang canggih, siapa yang memiliki gadget terbaru, siapa yang berlibur ke eropa, dialah yang terpintar. Sebuah manipulasi harta untuk pendidikan.
Aku lebih membencinya karena bagiku sekolah itu tak ubahnya seperti rumah sakit jiwa yang didalamnya hanya berisi orang-orang congkak dan bodoh. Seperti Inge, teman sekelasku yang hobinya memamerkan koleksi berliannya yang membuatku bersumpah agar berlian itu lenyap dan berganti dengan baja berkarat. Aku membencinya, teramat sangat. Karena sepanjang hari dalam seminggu, dalam sebulan, dan dalam 3 tahun aku bersekolah disini pekerjaannya hanya meledekku. Menyakitiku dengan kata-kata pedas yang begitu fasih keluar dari bibir kotornya. Entah makhluk jenis apa yang telah bisa membesarkan monster betina menjijikan itu. Seperti saat ini, dia dengan sengaja menjulurkan kakinya saat aku tengah tertatih berjalan menuju kelas dan membuatku tersungkur. Dia terbahak dan meninggalkanku yang masih menyatu dengan tanah. Seperti seeokor harimau yang telah puas menerkam mangsanya dan pergi tanpa memperdulikan mangsanya yang tengah terkoyak. Aku benci dia. Sekali lagi, teramat benci.
Ayahku adalah laki-laki yang sempurna dimataku. Aku sangat mengaguminya. Mungkin kau bosan dengan pemujaanku padanya, dan dengan betapa seringnya aku mengucapkan bahwa aku teramat sangat menyayanginya. Dia tak akan pernah membiarkan seekor semut kecil menggigitku. Dia selalu memberikan waktunya untukku. Mendengarkan banyak hal yang kuceritakan. Atau lebih tepatnya memperhatikanku menarikan tangan dan jemariku agar aku bisa berkomunikasi dengannya. Sudah kukatakan bukan, jika aku adalah gadis bisu? Jadi bukan hal yang aneh jika aku berbicara menggunakan bahasa isyarat yang hanya aku dan ayahku yang mengerti. Karena bersamanya aku mempelajari hal itu. Kami selalu bertukar cerita setiap malam. Tentang cerita sehari yang kami lalui masing-masing. Dan ayah selalu mengakhirinya dengan mencium hangat keningku dan berkata, "selamat malam bidadari kecilku, mimpi indah tuan putri". Oh ayah, betapa aku mencintai dan menyayangimu. Ayah juga selalu mengajakku pergi ke taman kota tiap sore di akhir pekan. Mengajakku menikmati kembang api di sabtu malam. Mengajakku kemana saja tempat-tempat yang indah. Bersamanya aku bisa merasakan bahwa aku hidup, dan tidak sendirian. Aku seolah lupa dengan apa yang telah orang-orang lakukan padaku. Dengan olokan-olokan mereka, dan dengan kejadian menyakitkan di sekolah terkutuk itu, dan bahkan dengan perlakuan kasar ibu kandungku sendiri.
Kalian tahu, ibuku sangat berbeda dengan ayah. Dia tak pernah mau untuk menciumku, menyentuhku, atau bahkan hanya sekedar menatapku. Baginya aku tak lebih dari bangkai busuk yang menjijikan. Aku tak pernah tahu kenapa ibuku bersikap seolah-olah aku tidak ada. Jelas-jelas aku adalah anak kandungnya. Tapi rupanya kehadiranku adalah aib besar dalam hidupnya. Terlebih dalam hidupnya bersama teman-teman sosialitanya. Pernah ibuku secara terang-terangan tak mengakuiku sebagai putrinya. Saat para sosialita itu berkunjung ke rumah, dan aku tengah bermain sendiri dengan mainanku. Saat itu usiaku masih 6 tahun. Tapi aku masih bisa mengingat ketika ibuku bilang bahwa aku adalah anak gembel yang cacat yang tak sengaja dipungut oleh ayah dan untuk sementara tinggal di rumahnya. Oh, kau tahu bagaimana rasanya tertusuk pisau tajam dan menembus hingga danging terdalam? Mungkin itu terasa sangat perih dan menyakitkan. Tapi apa yang kurasakan saat itu lebih menyakitkan dari apa yang kugambarkan tadi. Bagaimana bisa ibuku sendiri tak mengakui sebagai anak? Darah dagingnya sendiri? Tapi aku tak pernah membencinya sampai sekarang.
Hingga pada suatu malam saat aku menantikan ayahku membuka pintu kamarku dan mengajakku bercerita, aku mendengar ada keributan dari lantai bawah rumahku. Aku coba melihatnya meski sebenarnya aku merasa takut. Aku melihat ibuku tengah beradu mulut dengan ayah. Aku tak mengerti apa yang mereka ributkan. Aku hanya mendengar bahwa ibu menginginkanku untuk pergi dari rumah ini, dan dari kehidupan mereka. Seperti yang kau tahu, aku adalah aib untuk ibuku. Ayah sangat marah mendengar permintaan ibu. Tak pernah kulihat ayah seseram itu wajahnya. Dengan muka merah padam, ayah ayunkan tangan kanan ayah dan mendarat tepat dipipi ibu hingga meninggalkan jejaknya. Aku semakin tak mengerti dengan apa yang kulihat sekarang. Dan entah iblis jenis apa yang merasuki ibuku yang dengan cekatan menggapai sebuah pisau yang biasa dipakai untuk mengupas buah dan menusukkannya tepat mengenai hati ayah. Ayah limbung, aku bisa melihat darah yang mengalir karena pisau itu. Ingin sekali aku menjerit dan berteriak memanggil nama ayah. Semakin kucoba, hanya suara parau yang teramat lirih yang bisa kuucap dan hilang seketika bersama angin malam yang mencekam.
Aku berlari sekuat tenaga meski dengan tertatih menuruni setiap anak tangga yang biasanya kulewati begitu cepat tapi sekarang kurasakan anak tangga ini semakin bertambah dan membuatku tak kunjung sampai.
Aku bersimpuh disamping ayah, menatap nanar ayahku yang telah bersimbah darah. Aku berusaha mencabut pisau yang masih menancap diperutnya. Kupeluk dia sekuat yang aku bisa. Dan masih jelas kurasakan desah nafas terakhirnya yang berhembus tepat disamping telingaku. Ayahku telah pergi, selamanya. Meninggalkanku sendiri dengan sejuta pertanyaan yang belum sempat kutanyakan padanya.
Entah sejak kapan warga sekitar berhamburan menyesaki ruang tamu rumahku. Dan entah siapa yang memanggil pihak polisi yang bisa secepat kilat ada dihadapanku.
Aku melihat polisi itu berusaha menyadarkan ibuku dari tatapan kosongnya sejak dia menusukkan pisau pada ayah, dan menyalaminya. Ibuku histeris, menangis, meraung, dan menunjuk ke arahku. Aku ingat ibuku bilang bahwa aku yang telah membunuh ayahku. Akulah yang menusukkan pisau itu padanya karena aku memiliki gangguan mental. Oh ibu, betapa kejamnya kau menuduhku membunuh ayahku sendiri. Sosok yang begitu kubanggakan, kusayang dan kupuja. Bagaimana mungkin?
Tak ayal merekapun membawaku bersamanya. Aku meronta, aku tak ingin pergi bersama polisi itu dengan tuduhan keji ini. Ayah sayang, bangunlah, tolonglah aku. Lihatlah gadismu tengah dibawa paksa oleh tangan-tangan kasar ini. Bangunlah ayah! Sekilas kulihat ibuku tersenyum penuh arti. Mungkin dia senang karena dia bisa terbebas dari tuduhan sebenarnya. Atau lebih tepatnya dia lebih senang karena akhirnya aku bisa lenyap dari hidupnya. Dan sejak itu aku sangat membencinya melebihi rasa benciku pada Inge.
***
Inilah aku akhirnya, berada dalam sebuah ruangan kecil yang hanya terdapat sebuah tempat tidur yang kasurnya tak lagi empuk. Tak pernah lagi ada cerita seperti saat bersama ayahku diatas kasur empukku dengan selimut donal bebek. Bertahun-tahun terkurung dalam ruangan pengap ini karena polisi ternyata berasumsi bahwa aku memiliki kelainan jiwa seperti apa yang dikatakan ibuku. Bukan penjara dengan orang-orang bengis didalamnya yang kutempati sekarang. Tapi sebuah rumah sakit yang orang menyebutnya rumah sakit jiwa dengan penghuninya yang kebanyakan memiliki gangguan mental. Tapi tidak denganku, tak seharusnya aku berada dalam bilik menyeramkan ini. Sekali lagi, seharusnya aku ada dalam kamar hangatku dan bercerita banyak hal dengan ayahku. Tak ada siapapun. Tak ada yang mengunjungiku dan mengajakku bercerita. Hanya suster dan dokter yang setiap hari memberiku obat dan suntikan yang justru membuatku semakin tersiksa. Dimana ibuku? Menurut berita yang kubaca di koran rumah sakit satu bulan yang lalu ibuku dimasukkan ke rumah sakit jiwa dan divonis menderita gangguan jiwa. Ibuku sering berteriak histeris memanggil namaku dan ayahku. Kelakuannya bagaikan seorang yang telah berbuat dosa besar. Ya, dosanya membunuh ayahku, dan dosanya membenciku dalam hidupnya hingga tega memasukkanku dalam ruang penyiksaku ini. Bagiku itu adalah balasan atas apa yang telah dia perbuat pada ayahku, dan terlebih padaku.
Aku meraih sebuah pisau disamping keranjang buah disamping tempat tidurku. Mengamatinya perlahan, dan dengan halus kusapukan mata pisau itu hingga memotong urat nadiku. Masih bisa kulihat darah segar mengalir dari pergelangan tanganku. Samar-samar kulihat cahaya yang menyilaukan dan tampak sosok laki-laki yang sangat kusayang. Kulihat ayahku mengulurkan tangannya dan mengajakku pergi dengannya ke tempat yang indah seperti yang dulu sering dia lakukan padaku. Kuraih tangannya dan berjalan bersamanya hingga kami sampai di sebuah tempat yang sangat indah melebihi tempat terindah yang pernah ayah tunjukkan padaku. Itu adalah tempat terindah yang ayah ajak aku untuk mengunjunginya. Disana kami membangun lagi hidup kami yang lebih indah, dan dengan cerita-cerita yang indah pula. Dan tahukah kalian, aku kini bisa berjalan normal seperti ayahku. Kami sering melakukan lomba lari, dan aku selalu menjadi pemenangnya. Dan aku kini bisa bicara normal seperti ayah. Sehingga pertanyaan-pertanyaan itu telah kutanyakan pada ayah dan kudapatkan jawabannya. Dan pertanyaanku yang dulu hanya bisa dijawab ayah dengan senyuman sembari mengelus kepalakupun terjawab sudah. Mengapa ibu seolah benci dan tak pernah menginginkanku? Karena aku begitu indah, dan hanya hal yang terindah pula yang bisa menerima keberadaanku.
***
Aku tak pernah berharap lahir dengan keadaan seperti ini. Andaipun bisa aku memilih lebih baik aku memilih tak pernah bisa merasakan udara bumi ini daripada aku harus ada dengan takdir pahit yang terus menyapaku. Kau tahu, banyak yang bilang aku adalah gadis yang cantik dengan fisik yang kupunya sekarang. Rambutku panjang berwarna hitam legam, alis mataku berbentuk bulan sabit tanpa harus dibentuk dengan pensil alis. Bibirku berwarna merah alami tanpa harus dipulas dengan pewarna bibir. Pipiku merona merah meski agak sedikit chubby. Hidungku mancung sempurna. Mataku berkilau dengan bola mata hitam bagaikan biji buah leci. Kulitkupun begitu putih dan halus. Kau mungkin akan merasa iri dengan gambaran fisikku yang hampir mendekati sempurna andaikata aku tidak terlahir cacat dengan kakiku yang panjang sebelah dan mengharuskanku berjalan pincang. Ya, aku gadis 15 tahun, Renata si pincang. Itulah yang sering mereka sebut untuk memanggil namaku. Ingin sekali rasanya aku memaki mereka. Karena sungguh, demi apapun perkataan dan ejekan mereka sangat menyakiti hatiku. Tapi semakin aku membalas ejekan mereka, semakin menjadi pula ejekan mereka. Karena aku bukan saja pincang, tapi aku juga tak bisa bicara. Aku bisu. Semua yang melihatku seolah jijik dengan apa yang mereka lihat. Aku hanya bayangan hitam yang ada didekat mereka. Aku hanya benalu dalam hidup orang-orang disekitarku. Teman-teman sekolahku, lingkungan tempat tinggalku, bahkan keluargaku.
Pernahkah kalian melihat kucing kurap dengan bulu-bulu mereka yang sudah jarang hingga terlihat kulit tipisnya? Ditambah dengan tubuh ceking dan luka yang entah bekas apa disekitar wajahnya. Menjijikan bukan? Bagi sebagian orang pasti ingin sekali melemparinya dengan gagang sapu, atau benda apapun untuk mengusirnya. Bahkan tak banyak juga yang menyiramnya dengan air panas. Kejam bukan. Seperti itulah aku. Aku hanya seonggok manusia yang hidup dengan perlakuan orang-orang sadis yang menginginkan aku lenyap dari bumi ini. Yang memandangku sebelah mata, yang seolah kehadiranku adalah pertanda sebuah bencana yang maha dahsyatnya. Tak terkecuali keluargaku. Ya, bahkan keluargaku sendiripun tak pernah mengharapkan kehadiranku. Terlebih ibuku. Baginya aku hanyalah daging busuk yang seharusnya dibuang jauh-jauh ketempat sampah dan musnah bersama bangkai tikus got yang membusuk. 15 tahun aku hidup bersamanya, tapi selama itu pula tak pernah sedikitpun kurasakan kasih sayang ibuku padaku. Aku iri melihat Dayu, anak Bik Sri pembantu di rumahku yang usianya 3 tahun lebih muda dariku. Secara finansial hidupnya jauh dari kata cukup. Berbeda denganku yang memiliki banyak fasilitas dan uang yang bisa kugunakan untuk apa saja. Tapi Dayu memiliki seorang ibu yang teramat sangat menyayanginya. Tak pernah lupa Bik Sri menyiapkan bekal untuk sekolah anaknya setiap pagi. Dan selalu menciumnya hangat saat Dayu berpamitan berangkat sekolah. Sedangkan aku? Setiap pagi saat sarapan aku tak pernah melihat ibuku ada bersama dalam satu meja makan menikmati menu untuk mengganjal perut kami mengawali aktivitas. Ingin sekali aku bertanya pada ayahku. Karena hanya dia yang kuingat selalu berusaha melindungi dan menyayangiku. Ayah hanya tersenyum saat aku menatapnya dan seolah bertanya, 'dimana ibu? kenapa tak sarapan bersama dengan kita?'
"Ibumu ada urusan pekerjaan yang mengharuskannya pergi pagi-pagi dan tak sempat sarapan bersama kita"
Ah ayah, kau selalu tahu apa yang ada dalam pikiranku. Tapi sayang, kau tak pernah tahu bahwa aku telah hafal dengan jawaban itu. Karena sejak aku mengerti kosakataku dan bertanya kemana ibu tiap pagi hingga tak sempat sarapan dengan kita, selalu jawaban itu yang kau lontarkan dari mulut bijakmu. Tapi tak apa, lagipula aku telah terbiasa hidup dengan duniaku.
Aku lebih banyak diam didalam mobil saat ayah mengantarkanku berangkat sekolah. Karena aku memang lebih suka 'diam' meski sebenarnya aku begitu ingin berbicara. Menanyakan banyak hal yang selalu aku pendam sendiri. Seperti, mengapa dasi yang ayah pakai selalu saja berwarna hitam? Atau, bisakah suatu saat nanti aku mengenakan pakaian seperti yang ayah pakai? Karena jujur saja, aku sangat mengagumi ayahku saat berpakaian seperti itu.
Gerbang sekolah terlihat begitu jelas dengan tulisan besar yang terpampang "SELAMAT DATANG DI SMP GRACEVA". Hanya anak perempuan yang bisa merasakan megahnya bersekolah di SMP Graceva, dan yang pasti mereka harus berduit untuk bisa menjadi siswinya. Sekolahku adalah salah satu SMP favorit di kotaku dengan orang-orang sosialita dan konglomerat yang menyekolahkan anaknya disitu. Karena memang biaya sekolah itu sangat mahal. Akupun heran kenapa ayahku memasukkanku ke sekolah pemeras itu? Meski kutahu harta ayahku tak akan habis jika seandainya dia menyekolahkan 10 atau belasan anak seusiaku di sekolah itu. Ah lupakan tentang biaya itu. Karena sejujurnya aku sangat membenci sekolah itu. Bagaimana tidak? Sekolah yang seharusnya menjadi tempat menuntut ilmu beralih menjadi tempat menuntut popularitas dan kekuasaan. Siapa yang memiliki mobil mewah yang canggih, siapa yang memiliki gadget terbaru, siapa yang berlibur ke eropa, dialah yang terpintar. Sebuah manipulasi harta untuk pendidikan.
Aku lebih membencinya karena bagiku sekolah itu tak ubahnya seperti rumah sakit jiwa yang didalamnya hanya berisi orang-orang congkak dan bodoh. Seperti Inge, teman sekelasku yang hobinya memamerkan koleksi berliannya yang membuatku bersumpah agar berlian itu lenyap dan berganti dengan baja berkarat. Aku membencinya, teramat sangat. Karena sepanjang hari dalam seminggu, dalam sebulan, dan dalam 3 tahun aku bersekolah disini pekerjaannya hanya meledekku. Menyakitiku dengan kata-kata pedas yang begitu fasih keluar dari bibir kotornya. Entah makhluk jenis apa yang telah bisa membesarkan monster betina menjijikan itu. Seperti saat ini, dia dengan sengaja menjulurkan kakinya saat aku tengah tertatih berjalan menuju kelas dan membuatku tersungkur. Dia terbahak dan meninggalkanku yang masih menyatu dengan tanah. Seperti seeokor harimau yang telah puas menerkam mangsanya dan pergi tanpa memperdulikan mangsanya yang tengah terkoyak. Aku benci dia. Sekali lagi, teramat benci.
Ayahku adalah laki-laki yang sempurna dimataku. Aku sangat mengaguminya. Mungkin kau bosan dengan pemujaanku padanya, dan dengan betapa seringnya aku mengucapkan bahwa aku teramat sangat menyayanginya. Dia tak akan pernah membiarkan seekor semut kecil menggigitku. Dia selalu memberikan waktunya untukku. Mendengarkan banyak hal yang kuceritakan. Atau lebih tepatnya memperhatikanku menarikan tangan dan jemariku agar aku bisa berkomunikasi dengannya. Sudah kukatakan bukan, jika aku adalah gadis bisu? Jadi bukan hal yang aneh jika aku berbicara menggunakan bahasa isyarat yang hanya aku dan ayahku yang mengerti. Karena bersamanya aku mempelajari hal itu. Kami selalu bertukar cerita setiap malam. Tentang cerita sehari yang kami lalui masing-masing. Dan ayah selalu mengakhirinya dengan mencium hangat keningku dan berkata, "selamat malam bidadari kecilku, mimpi indah tuan putri". Oh ayah, betapa aku mencintai dan menyayangimu. Ayah juga selalu mengajakku pergi ke taman kota tiap sore di akhir pekan. Mengajakku menikmati kembang api di sabtu malam. Mengajakku kemana saja tempat-tempat yang indah. Bersamanya aku bisa merasakan bahwa aku hidup, dan tidak sendirian. Aku seolah lupa dengan apa yang telah orang-orang lakukan padaku. Dengan olokan-olokan mereka, dan dengan kejadian menyakitkan di sekolah terkutuk itu, dan bahkan dengan perlakuan kasar ibu kandungku sendiri.
Kalian tahu, ibuku sangat berbeda dengan ayah. Dia tak pernah mau untuk menciumku, menyentuhku, atau bahkan hanya sekedar menatapku. Baginya aku tak lebih dari bangkai busuk yang menjijikan. Aku tak pernah tahu kenapa ibuku bersikap seolah-olah aku tidak ada. Jelas-jelas aku adalah anak kandungnya. Tapi rupanya kehadiranku adalah aib besar dalam hidupnya. Terlebih dalam hidupnya bersama teman-teman sosialitanya. Pernah ibuku secara terang-terangan tak mengakuiku sebagai putrinya. Saat para sosialita itu berkunjung ke rumah, dan aku tengah bermain sendiri dengan mainanku. Saat itu usiaku masih 6 tahun. Tapi aku masih bisa mengingat ketika ibuku bilang bahwa aku adalah anak gembel yang cacat yang tak sengaja dipungut oleh ayah dan untuk sementara tinggal di rumahnya. Oh, kau tahu bagaimana rasanya tertusuk pisau tajam dan menembus hingga danging terdalam? Mungkin itu terasa sangat perih dan menyakitkan. Tapi apa yang kurasakan saat itu lebih menyakitkan dari apa yang kugambarkan tadi. Bagaimana bisa ibuku sendiri tak mengakui sebagai anak? Darah dagingnya sendiri? Tapi aku tak pernah membencinya sampai sekarang.
Hingga pada suatu malam saat aku menantikan ayahku membuka pintu kamarku dan mengajakku bercerita, aku mendengar ada keributan dari lantai bawah rumahku. Aku coba melihatnya meski sebenarnya aku merasa takut. Aku melihat ibuku tengah beradu mulut dengan ayah. Aku tak mengerti apa yang mereka ributkan. Aku hanya mendengar bahwa ibu menginginkanku untuk pergi dari rumah ini, dan dari kehidupan mereka. Seperti yang kau tahu, aku adalah aib untuk ibuku. Ayah sangat marah mendengar permintaan ibu. Tak pernah kulihat ayah seseram itu wajahnya. Dengan muka merah padam, ayah ayunkan tangan kanan ayah dan mendarat tepat dipipi ibu hingga meninggalkan jejaknya. Aku semakin tak mengerti dengan apa yang kulihat sekarang. Dan entah iblis jenis apa yang merasuki ibuku yang dengan cekatan menggapai sebuah pisau yang biasa dipakai untuk mengupas buah dan menusukkannya tepat mengenai hati ayah. Ayah limbung, aku bisa melihat darah yang mengalir karena pisau itu. Ingin sekali aku menjerit dan berteriak memanggil nama ayah. Semakin kucoba, hanya suara parau yang teramat lirih yang bisa kuucap dan hilang seketika bersama angin malam yang mencekam.
Aku berlari sekuat tenaga meski dengan tertatih menuruni setiap anak tangga yang biasanya kulewati begitu cepat tapi sekarang kurasakan anak tangga ini semakin bertambah dan membuatku tak kunjung sampai.
Aku bersimpuh disamping ayah, menatap nanar ayahku yang telah bersimbah darah. Aku berusaha mencabut pisau yang masih menancap diperutnya. Kupeluk dia sekuat yang aku bisa. Dan masih jelas kurasakan desah nafas terakhirnya yang berhembus tepat disamping telingaku. Ayahku telah pergi, selamanya. Meninggalkanku sendiri dengan sejuta pertanyaan yang belum sempat kutanyakan padanya.
Entah sejak kapan warga sekitar berhamburan menyesaki ruang tamu rumahku. Dan entah siapa yang memanggil pihak polisi yang bisa secepat kilat ada dihadapanku.
Aku melihat polisi itu berusaha menyadarkan ibuku dari tatapan kosongnya sejak dia menusukkan pisau pada ayah, dan menyalaminya. Ibuku histeris, menangis, meraung, dan menunjuk ke arahku. Aku ingat ibuku bilang bahwa aku yang telah membunuh ayahku. Akulah yang menusukkan pisau itu padanya karena aku memiliki gangguan mental. Oh ibu, betapa kejamnya kau menuduhku membunuh ayahku sendiri. Sosok yang begitu kubanggakan, kusayang dan kupuja. Bagaimana mungkin?
Tak ayal merekapun membawaku bersamanya. Aku meronta, aku tak ingin pergi bersama polisi itu dengan tuduhan keji ini. Ayah sayang, bangunlah, tolonglah aku. Lihatlah gadismu tengah dibawa paksa oleh tangan-tangan kasar ini. Bangunlah ayah! Sekilas kulihat ibuku tersenyum penuh arti. Mungkin dia senang karena dia bisa terbebas dari tuduhan sebenarnya. Atau lebih tepatnya dia lebih senang karena akhirnya aku bisa lenyap dari hidupnya. Dan sejak itu aku sangat membencinya melebihi rasa benciku pada Inge.
***
Inilah aku akhirnya, berada dalam sebuah ruangan kecil yang hanya terdapat sebuah tempat tidur yang kasurnya tak lagi empuk. Tak pernah lagi ada cerita seperti saat bersama ayahku diatas kasur empukku dengan selimut donal bebek. Bertahun-tahun terkurung dalam ruangan pengap ini karena polisi ternyata berasumsi bahwa aku memiliki kelainan jiwa seperti apa yang dikatakan ibuku. Bukan penjara dengan orang-orang bengis didalamnya yang kutempati sekarang. Tapi sebuah rumah sakit yang orang menyebutnya rumah sakit jiwa dengan penghuninya yang kebanyakan memiliki gangguan mental. Tapi tidak denganku, tak seharusnya aku berada dalam bilik menyeramkan ini. Sekali lagi, seharusnya aku ada dalam kamar hangatku dan bercerita banyak hal dengan ayahku. Tak ada siapapun. Tak ada yang mengunjungiku dan mengajakku bercerita. Hanya suster dan dokter yang setiap hari memberiku obat dan suntikan yang justru membuatku semakin tersiksa. Dimana ibuku? Menurut berita yang kubaca di koran rumah sakit satu bulan yang lalu ibuku dimasukkan ke rumah sakit jiwa dan divonis menderita gangguan jiwa. Ibuku sering berteriak histeris memanggil namaku dan ayahku. Kelakuannya bagaikan seorang yang telah berbuat dosa besar. Ya, dosanya membunuh ayahku, dan dosanya membenciku dalam hidupnya hingga tega memasukkanku dalam ruang penyiksaku ini. Bagiku itu adalah balasan atas apa yang telah dia perbuat pada ayahku, dan terlebih padaku.
Aku meraih sebuah pisau disamping keranjang buah disamping tempat tidurku. Mengamatinya perlahan, dan dengan halus kusapukan mata pisau itu hingga memotong urat nadiku. Masih bisa kulihat darah segar mengalir dari pergelangan tanganku. Samar-samar kulihat cahaya yang menyilaukan dan tampak sosok laki-laki yang sangat kusayang. Kulihat ayahku mengulurkan tangannya dan mengajakku pergi dengannya ke tempat yang indah seperti yang dulu sering dia lakukan padaku. Kuraih tangannya dan berjalan bersamanya hingga kami sampai di sebuah tempat yang sangat indah melebihi tempat terindah yang pernah ayah tunjukkan padaku. Itu adalah tempat terindah yang ayah ajak aku untuk mengunjunginya. Disana kami membangun lagi hidup kami yang lebih indah, dan dengan cerita-cerita yang indah pula. Dan tahukah kalian, aku kini bisa berjalan normal seperti ayahku. Kami sering melakukan lomba lari, dan aku selalu menjadi pemenangnya. Dan aku kini bisa bicara normal seperti ayah. Sehingga pertanyaan-pertanyaan itu telah kutanyakan pada ayah dan kudapatkan jawabannya. Dan pertanyaanku yang dulu hanya bisa dijawab ayah dengan senyuman sembari mengelus kepalakupun terjawab sudah. Mengapa ibu seolah benci dan tak pernah menginginkanku? Karena aku begitu indah, dan hanya hal yang terindah pula yang bisa menerima keberadaanku.
*uciuchyuchie*
Kamis, 20 Februari 2014
Rujak Buah Si Mbah
Belakangan ini cuaca benar-benar tidak menentu. Sebentar panas, sebentar hujan. Mungkin itu memang improvisasi alam yang penuh dengan sejuta misteri. Sebenarnya aku kurang begitu nyaman dengan hawa panas di tempat kerjaku. Maklumlah, ruangan kerjaku tidak menggunakan jasa penyejuk ruangan. Hanya sebuah kipas angin berdiri sebagai pengusir panas. Lumayan daripada tidak ada sama sekali. Aku punya kebiasaan kuliner untuk sedikit menghilangkan rasa gerahku. Bukan kuliner yang benar-benar kuliner besar-besaran tentunya. Hanya sedikit kuliner kecil-kecilan. Lebih tepatnya aku sering menikmati segelas es kelapa muda dengan irisan nangka manis yang biasa aku pesan di kedai sebelah kantorku. Atau membeli sebotol minuman vitamin c dingin di toko sebelah. Atau apapun itu untuk setidaknya mengusir rasa penatku dari pekerjaan dan hawa panas. Tapi sekarang aku punya kebiasaan baru untuk menghilangkan itu. Tapi tetap saja masih bersangkutan dengan dunia kuliner. Maklumlah, memang aku sedikit memiliki hobi menikmati kuliner, hehehe. Tapi ini tidak menyangkut es kelapa, atau es jenis lainnya, atau minuman dingin bermerk. Tapi ini adalah kuliner jenis rujak, lebih tepatnya rujak buah. Siapa yang tidak mengenal rujak buah? Potongan buah-buahan segar ditambah bumbu rujak atau sambal pedas manisnya itu, mmmmm benar-benar nikmat bukan saat disantap disiang hari dengan cuaca panas? Yap, itulah obat pengusir penatku disiang hari ini dengan cuaca yang aduhai panasnya. Berawal disiang hari kemarin ketika aku beranjak ke toko sebelah untuk membeli sebotol minuman vitamin c kesukaanku, tiba-tiba aku melihat sesosok dengan gerobak kecilnya yang berisi beraneka macam buah-buahan segar berdiri didepan toko tersebut. Dalam hitungan detik otakku berpikir cepat untuk tetap membeli minuman itu, atau berpaling pada gerobak itu? Akhirnya aku putuskan untuk menuju gerobak buah itu dan membeli satu porsi lengkap rujak buah. Mungkin kalian berpikir alasan utamaku membeli rujak itu karena buah-buahan segar yang menggoda. Tapi sebenarnya bukan itu alasan utamaku yang membuatku beralih pada gerobak rujak itu. Alasan utamaku adalah saat aku melihat sosok dibalik gerobak itu. Aku melihat sosok laki-laki yang menurutku pasti sangat kuat dan bertanggung jawab. Bagaimana tidak, dibalik keriput diwajahnya itu menyiratkan sebuah kekuatan besar untuk terus menyusuri setapak demi setapak jalan menerobos panasnya jalan raya yang berdebu. Sosok itu benar-benar membuatku jatuh hati, atau lebih tepatnya simpatik. Ya, aku benar-benar simpatik dengan sosok penjual rujak itu yang sekarang lebih sering aku sebut dengan si mbah. Karena usianya memang sudah tidak bisa lg dibilang muda. Mungkin usianya sudah mencapai angka kepala 6, atau 7, atau mungkin bahkan lebih. Yang jelas menurutku diusianya sekarang tidak seharusnya si mbah harus berpeluh dengan keringat dan menahan sengatan matahari, atau deru jalanan yang arogan. Seharusnya si mbah ada di dalam rumah di sebuah ruangan yang nyaman dengan kasur empuk untuknya dan dengan makanan yang sudah disiapkan untuk disantapnya. Aku mengagumi kekuatannya. Aku mengagumi sosok kuat itu. Aku malu pada si mbah. Aku merasa begitu rendah dan kecil dihadapan simbah. Aku yang begitu sering mengeluh dengan hidupku yang sudah bisa dibilang sangat berkecukupan. Aku yang begitu sering mengeluh dengan pekerjaan nyaman yang telah kudapat. Tapi tidak dengan si mbah. Aku bisa melihat kekuatan dan ketegaran yang terpancar dari sorot matanya. Meski aku tahu bahwa sebenarnya si mbah juga letih. Aku bisa merasakannya bahwa si mbah sebenarnya pun ingin kenyamanan. Tapi si mbah tetap kuat, si mbah tetap semangat meniti jalanan demi rezki yang tlah disiapkan untuknya. Aku suka semangatmu mbah, kau telah mengajarkanku bahwa bukan kita orang yang paling menderita dengan segudang masalah dalam hidup. Bahwa masih banyak orang lain diluar sana yang jauh lebih susah tapi tetap tegar dan tersenyum. Aku juga suka rujak buahmu mbah, sambalnya benar-benar kerasa nendang dan hot hehehe. Terimakasih untuk pelajaranmu, dan terima kasih telah memberiku pengusir penat yang tokcer. Rujak buah si mbah.
*uciuchyuchie*
Kamis, 13 Februari 2014
Happy for The Great Wedding
Bloggiiiieee, kemarin adalah salah satu hari yang sangat bersejarah dalam hidupku. How come? Because, yesterday my uncle was get married. Ouuhh I'm so happy for that, too much. Yah satu lagi rahasiaNYA yang tlah terungkap. Jodoh itu memang rahasia Tuhan kan? Siapa yang menyangka kalau akhirnya setelah penantian yang mmmm, lumayan lama, akhirnya kemarin pamanku melangsungkan pernikahan itu. Dan dengan lantangnya pamanku mengucapkan janji suci pernikahan itu. Oh God, aku bener-bener speechless banget ketika om ku dengan lantangnya mengucapkan ijab qobul itu yang benar-benar sangat khidmat dan sakral. Aku bener-bener terharu dan tanpa terasa aku sampai menangis. Tapi bukan nangis lebay, lebih tepatnya cuma setetes airmata yang jatuh dengan harunya. Indah sekali rasanya mendengar itu. Dan ternyata bukan hanya aku yang merasakannya. Mama dan budheku juga merasakan hal yang sama. Spontan mereka berpelukan setelah ijab qobul itu selesai dilantangkan. Momen yang teramat sangat mengesankan, benar2 memorable. Hari itu aku benar2 belajar bahwa janji Allah itu pasti dan nyata. Tak pernah ingkar. Dan rahasia itu memang akan selalu ada jawabnya. Ini hanya masalah timing. Jika telah siap waktunya pasti Dia akan mendatangkan untuk kita. Dan itulah yang membuatku semakin ikhlas untuk belajar sabar, tegar, & kuat. Karena hal terindah tidak mungkin dihasilkan dalam waktu yang singkat. Semuanya butuh perjuangan, pengorbanan, dan tentu saja doa. And now, I just want to pray for my uncle and my aunty, barakallah, may Allah always blessing both of u, to be a sakinah mawaddah warahmah family, happily ever after, and don't forget to give me new cousins, and all the best for u. Congrats for ur wedding :-*
*uciuchyuchie*
Kamis, 06 Februari 2014
Giliranku?
Kemarin, sepulang kerja mama menyodorkan secarik surat berwarna coklat kekuning2an bergambar sepasang merpati dan dua buah cincin yang menyatu. Kulihat dan kubaca tertulis dua nama, Tiara & Nizar. Oh, undangan pernikahan. Lagi, satu lagi temanku yang akhirnya melepas kesendiriannya dan menjalin sebuah ikatan suci dengan pilihan hatinya. Senang sekali rasanya saat melihat dua insan yang tengah dimabuk cinta menyatu dalam ikatan cinta yang damai. Paginya aku ceritakan pada teman kerjaku di kantor. Entah apa yang membuatku menceritakan hal itu padanya. Antusias sekali dia mendengarkan ceritaku. Dan di akhir cerita dia bertanya, "temen kamu udah ada yang mau nikah lg, kamu kapan? apa mau aku langkahi?" Oh, pertanyaan klise. Aku hanya tersenyum kecut menjawab pertanyaan itu. Itu adalah pertanyaan kesekian kalinya yang dilontarkan untukku. Dan sampai sekarang, aku masih saja belum bisa memberikan jawaban yang pasti. Umurku hampir 22 tahun. Aku pikir masih belum terlalu tua jg. Aku masih cukup muda unutk menikmati kesendirianku. Meskipun ada temen yang diusia itu udah punya anak dua, tp takdir setiap manusia kan berbeda-beda. Bisa saja temen2ku dengan mudah dan cepatnya menemukan pendamping hidupnya. Lagipula, bukan inginku juga untuk terus2an sendiri. Hanya saja, untuk saat ini aku masih lelah dengan yang namanya cinta. Bukan lelah juga si, hanya sedikit muak dengan beberapa ceritaku yang selalu saja menjadi korban keegoisan para lelaki yang pernah ada dalam hidupku. Disaat aku yakin dengan 'dia', disaat aku benar2 memilih 'dia', 'dia' malah pergi. Pergi begitu saja dengan keegoisannya tanpa sedikitpun merasa bersalah. Ah entahlah, akupun tak tahu siapa yang bersalah dalam kisah itu. Hanya saja, sejak aku lepas darinya goresan itu masih berasa. Dan aku masih belum bisa menemukan sosok yang benar2 bisa menggantinya. Bukan karena aku tak lagi membuka hati. Aku sudah mencoba membuka hatiku untuk orang lain, tapi tetap saja rasanya bayangan 'dia' dan harapan tentangnya masih saja menghantui. Belum ada yang bisa meyakinkanku. Sampai rasanya aku takut untuk memulai sebuah cerita lagi. Aku tak lg ingin main2 dengan hati. Untuk itulah mungkin lebih baik aku menikmati sendiriku dan lebih mendekatkan diri denganNYA. Hingga saatnya tiba pasti akupun akan bertemu dengan pemilik tulang rusuk ini. Jodoh itu sudah diatur bukan? Dan pemilik tulang rusuk itu tak akan salah mencari bagiannya yang hilang. Dan akupun akan merasakan apa yang teman2ku rasakan terlebih dulu ^_^
*uciuchyuhcie*
Senin, 03 Februari 2014
Cerita Minggu 02 Februari 2014
Kemarin aku menghabiskan hari liburku yang hanya seminggu sekali dengan berbelanja seharian. Oh tidak, lebih tepatnya menemani orang lain berbelanja. Ya, kemarin aku menemani my best uncle dan calon tante baruku belanja keperluan pernikahan mereka. Karena tanggal 12 februari nanti mereka akan resmi menjadi sepasang suami istri yang sah. Oh, its a greatest news, isn't it? I'm so glad to hear that. Senang sekali rasanya kemarin muter-muter dari toko satu ke toko yang lainnya. Tapi kesenangannku bukan karena belanja ini itu dan sebagainya. Kesenanganku lebih pada melihat kedua calon pengantin itu. Ya, bisa kulihat dan kurasakan betapa bahagianya mereka. Siapapun yang peka, pasti akan melihat sorot kebahagiaan itu. Indah rasanya ketika melihat dua insan yang tengah dimabuk cinta merajut sebuah ikatan suci yang kelak akan lebih menambah kebahagiaan itu. Entah kenapa daya tarik itu seolah masuk kedalam jiwaku hingga aku bisa merasakannya. Aku terbuai hingga aku sendiri membayangkan jika diriku sendiri yang ada diposisi calon tanteku itu. Pasti akupun akan sama sebahagia itu. Aku tersenyum saat khayalan itu hinggap dalam benakku. Ah, lamunan apa yang menggangguku. Tak seharusnya aku berkhayal seperti itu. Bahkan saat inipun aku masih belum tahu dengan siapa kelak akan merajut ikatan suci itu. Tapi satu yang kutahu, hingga tiba masanya nanti, pasti aku akan merasakannya. Tanpa harus berkhayal yang berlebihan ^_^.
*uciuchyuchie*
Senin, 27 Januari 2014
Nyanyian Alam
Aku merasakan guncangan itu. Sebuah getaran hebat yang kurasa membuat pandanganku sedikit kabur. Aku limbung? Sebegitu lelahkah aku hingga akhirnya aku merasa kehilangan keseimbangan tubuh? Aku tertegun sejenak ketika guncangan itu terasa kembali. Hingga seorang teman menyadarkanku bahwa guncangan tadi adalah gempa. Ya, sebuah gempa bumi. Aku segera turun menuju lantai bawah bersama teman-temanku. Kulihat kami saling menatap satu sama lain, tertegun. Setelah kami merasa keadaan kembali normal kamipun masuk kembali ke dalam. Dengungan suara itu terdengar bergantian menceritakan sensasi mereka masing-masing akibat gempa tadi. Aku beranjak menuju meja kerjaku mengadu jariku dengan tuts keyboard, meng googling berita tentang gempa terkini. Dapat, sebuah berita dengan judul "Gempa bumi guncang sebagian wilayah jateng dengan skala 6,5 SR dan berpusat di kebumen". Pantas saja guncangan itu terasa hebat meskipun tidak sampai merusak bangunan di daerahku. Aku kembali tertegun sambil memikirkan bagaimana keadaan saudara-saudara di daerah pusat gempa dan sekitarnya? Meskipun dari berita yang kubaca masih belum ada korban jiwa yang tercatat, tetap saja itu adalah bencana yang mengkhawatirkan bukan?
Bumi ini memang sudah semakin renta. Banjir di ibukota, sumatra, beberapa daerah di jawa tengah, letusan sinabung, dan kini gempa di kebumen. Aku sadar, ini adalah sebuah teguran alam pada kita yang tanpa sadar selama ini hanya membuat keadaan menjadi tak lagi harmonis. Menyalahkan siapa jika terjadi bencana seperti ini? Haruskah kita menyalahkan gunung sinabung itu, atau sungai yang meluap, atau hujan yang tak kunjung reda? Bukan, ini bukan tentang menyalahkan siapa. Tapi tentang bagaimana kita berintrospeksi diri dengan berbagai nyanyian alam yang kini semakin berdendang. Dekatkanlah diri kita pada Sang Maha Cinta, jagalah alam dengan tidak merusak keseimbangan lingkungan. Perbaikilah diri dari hal yang paling kecil hingga kita bisa membuat perubahan yang menakjubkan. Adakah kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik dengan menjaga keseimbangan alam dan lebih mendekatkan diri lagi pada Sang pencipta? Pasti bisa, dengan niat dan usaha maksimal yang bisa kita lakukan, maka hal itu pun bisa terwujud. Hingga akhirnya kita bisa tak lagi mendengar nyanyian duka itu, dan berganti menjadi nyanyian alam yang penuh dengan sukacita.
Bumi ini memang sudah semakin renta. Banjir di ibukota, sumatra, beberapa daerah di jawa tengah, letusan sinabung, dan kini gempa di kebumen. Aku sadar, ini adalah sebuah teguran alam pada kita yang tanpa sadar selama ini hanya membuat keadaan menjadi tak lagi harmonis. Menyalahkan siapa jika terjadi bencana seperti ini? Haruskah kita menyalahkan gunung sinabung itu, atau sungai yang meluap, atau hujan yang tak kunjung reda? Bukan, ini bukan tentang menyalahkan siapa. Tapi tentang bagaimana kita berintrospeksi diri dengan berbagai nyanyian alam yang kini semakin berdendang. Dekatkanlah diri kita pada Sang Maha Cinta, jagalah alam dengan tidak merusak keseimbangan lingkungan. Perbaikilah diri dari hal yang paling kecil hingga kita bisa membuat perubahan yang menakjubkan. Adakah kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik dengan menjaga keseimbangan alam dan lebih mendekatkan diri lagi pada Sang pencipta? Pasti bisa, dengan niat dan usaha maksimal yang bisa kita lakukan, maka hal itu pun bisa terwujud. Hingga akhirnya kita bisa tak lagi mendengar nyanyian duka itu, dan berganti menjadi nyanyian alam yang penuh dengan sukacita.
*uciuchyuchie*
Jumat, 24 Januari 2014
Bahagia Itu, Harus
Blogs, aku pernah membaca kata2 jika kebahagiaan itu adalah sebuah pilihan. Tapi tidak bagiku. Menurutku bahagia itu bukanlah sebuah pilihan. Bagiku bahagia itu adalah sebuah keharusan. Memang hidup ini selalu disandingkan dengan berbagai pilihan. Tapi bahagia itu bukan sesuatu yang dipilih. Bahagia itu sebuah keharusan yang harus kita jalani. Kita tetap harus bahagia dengan segala keadaan yang terjadi pada kita. Seburuk apapun sesuatu terjadi dalam hidup, kita tetap harus merasa bahagia. Sedih memang jika hal buruk terjadi dalam hidup kita. Tapi bukan berarti kita harus larut dalam kesedihan itu. Setidaknya cobalah untuk melihat segala hal dengan sudut pandang yang berbeda. Lihatlah segala sesuatunya dengan sudut pandang positif. Memang susah untuk melihat sesuatu dengan dua sudut pandang yang berbeda. Tapi bukan berarti itu tidak bisa dilakukan. Bukankah segala sesuatu yang positif itu jauh terlihat indah? Itu lebih menenangkan hati bukan? Untuk apa kita terus menerus berpikiran atau bersikap negatif? Itu hanya membuang energi dan membuat semuanya menjadi semakin keruh. Andai saja setiap segalanya bisa dilihat dari sudut pandang yang positif, pasti kebahagiaan itu akan bisa dirasakan oleh setiap jiwa. Bahagia itu bukan berarti dengan harta yang bergelimang. Bukan dengan jabatan tinggi, atau dengan fisik yang menawan. Bahagia itu adalah hati. Hati yang bersih, hati yang positif, dan hati yang selalu ikhlas untuk berbagi. Hati yang selalu bersemangat, hati yang selalu ceria, yang selalu tersenyum membawa kedamaian. Aku selalu ingin berbagi kebahagiaan itu. Aku selalu ingin berbagi keceriaan itu. Aku selalu ingin membaginya dengan orang2 disekelilingku, dengan orang2 yang menyayangiku, dengan setiap orang yang kusayang. Tak peduli dengan semua lika liku hidup yang kadang membuatku rapuh dan sedih. Aku hanya ingin terlihat kuat untuk mereka agar aku bisa selalu membawa kebahagiaan untuk mereka. Melihat mereka selalu tersenyum dan bahagia adalah sebuah kebahgiaan dalam hidupku. Untuk itulah, bagiku bahagia itu adalah sebuah keharusan dimana aku harus selalu menciptakan senyum dan tawa dengan ketulusan. Indahnya hidup adalah saat kita bisa berbagi hal yang bermanfaat bagi orang lain.
*Uciuchyuchie*
Selasa, 21 Januari 2014
Cerita Hujan
Aku mengatupkan kedua telapak tanganku menjadi satu. Menggosok2annya dengan irama beraturan. Kutempelkan pada pipiku. Hangat. Aku terpaksa mengangkat kedua kakiku dan menyilangkannya di kursi. Kedinginan. Ya, bahkan diluar sana hujan turun dengan derasnya. Sejak aku berangkat kerja hingga sekarang hujan masih turun mengguyur bumiNYA. Begitu berkah dan indahnya setiap tetes hujan yang turun dari langitNYA. Setiap tetes itu menghasilkan sebuah nada yang jika didengarkan dengan baik akan terdengar menjadi nada kehidupan. Cobalah sesekali menikmati setiap tetes demi tetes air yang turun dari langit dan menjadi harmoni nada yang memukau. Bukan hanya itu, setiap tetesan hujan juga membawa ceritanya masing2. Cerita anak yang berlarian merasakan sejuknya air langit. Cerita ibu-ibu yang mengeluh karena jemuran kemarin saja masih belum kering, cerita para petani yang bersyukur karena sawahnya tidak kekurangan air, atau bahkan cerita penduduk ibukota yang selalu disapa banjir tiap kali turun hujan. Dan tentu saja hujan itu membawa cerita indahnya untukku. Saat hujan turun ketika aku di dalam bus dalam perjalanan pulang kerja, dan aku duduk disebelahmu. Ketika aku menggosokkan telapak tanganku untuk sedikit merasakan kehangatan, kau menyapaku. Menanyakan aku turun dimana. Sebuah percakapan kecil pun terjadi diantara kita. Tahukah kamu? Entah kenapa percakapan kecil itu menimbulkan sebuah getar rasa yang membuatku susah melupakan setiap detail kejadian itu. Aneh mungkin menurutmu. Tapi yang kutahu aku menjadi tertarik padamu. Getaran itu semakin kurasa kedahsyatannya saat kau tanyakan nomor handphoneku. Aku berdegup. Aku bingung dengan tingkahku saat itu. Dan dengan kegugupan yang berusaha kututupi, akupun memberitahumu. Lama aku menanti kabar darimu. Hingga akhirnya disuatu pagi dengan sedikit gerimis, tertera nomor asing di layar handphoneku. Kuangkat, dan suara diseberang sana menjelaskan bahwa itu adalah dirimu. Aku merasa terbang bersama rintik gerimis itu.
Hujan juga memberi cerita indah saat pertama kali kita berdua jalan. Saat kita tengah menikmati pemandangan dengan menggenjot sepeda air di pinggir pantai, tiba-tiba gerimis itu datang. Dan itu adalah gerimis terindah yang pernah kunikmati. Mungkin terdengar berlebihan bagimu. Tapi bagiku, itu adalah cerita hujan terindah yang kurasakan.
Hujan juga memberi cerita indah saat pertama kali kita berdua jalan. Saat kita tengah menikmati pemandangan dengan menggenjot sepeda air di pinggir pantai, tiba-tiba gerimis itu datang. Dan itu adalah gerimis terindah yang pernah kunikmati. Mungkin terdengar berlebihan bagimu. Tapi bagiku, itu adalah cerita hujan terindah yang kurasakan.
*uciuchyuchie*
Senin, 20 Januari 2014
Pada Pandangan Pertama
Bilakah dia tahu apa yang tlah terjadiSemenjak hari itu hati ini miliknya
Mungkinkah dia jatuh hati
Seperti apa yang kurasa
Mungkinkah dia jatuh cinta
Seperti apa yang kudamba
Tuhan yakinkan dia tuk jatuh cinta hanya untukku
Andai dia tahu
Sepenggal lirik lagu kahitna berjudul andai dia tahu. Menceritakan tentang seseorang yang merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama. Terkadang aku bertanya-tanya, apa mungkin seseorang bisa jatuh cinta pada pandangan pertama? Bagaimana bisa seseorang merasakan cinta hanya ketika tak sengaja saling menatap pada perjumpaan pertama. Atau mungkin seseorang itu tiba-tiba menyapanya dan tanpa sengaja mata mereka saling beradu. Atau bisa jd salah satu diantara mereka terpesona dengan senyumannya. Ah entahlah, apapun alasannya ternyata jatuh cinta pada pandangan pertama itu memang bisa saja terjadi. Namanya perasaan cinta siapa yang bisa menolak? Dia datang begitu saja tanpa permisi. Menghampiri siapapun yang masih memiliki harapan cinta yang indah. Itupun yang kurasakan saat ini. Mungkin saja apa yang kurasakan saat ini adalah jenis perasaan cinta. Tepatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku bahkan baru saja mengenalnya. Mengetahui namanya. Dan sedikit komunikasi lewat sms atau telepon. Kita baru jalan sekali. Dan entah kenapa setiap kuingat peristiwa perkenalan itu ada getar-getar di hati ini yang aku sendiripun sulit untuk mendefinisikannya. Tersipu malu setiap mengingat peristiwa saat bersamanya. Tak bisa kulupakan setiap detail peristiwa bersamanya. Aku selalu mengingatnya. Aku bertanya, inikah yang dinamakan cinta? Cinta pada pandangan pertama? Aku tak berani mengutarakannya. Mungkin saja aku takut. Aku percaya cinta, hanya saja terkadang cinta itu memberikan goresan luka yang menyakitkan. Biarlah saat ini kupastikan dulu jenis rasa apa yang tengah kurasa sekarang. Mencari arti dari getaran hebat berskala 1000 richter dalam hati ini. Memendamnya seorang diri hingga tiba waktunya nanti akan kuluapkan bendungan perasaan cinta ini padanya. Karena yang kutahu sekarang hanyalah, semenjak hari itu hati ini miliknya.
Langganan:
Postingan (Atom)








