please enjoyed and have fun ;)

Sabtu, 22 Februari 2014

Keindahan Dalam Bisu

Aku bisa merasakan hujan yang turun diluar sana. Merasakan setiap terpaan titik hujan mengena hingga kedalam hatiku. Aku menatap lurus keluar jendela dibalik ruangan penyiksaku. Meresapi setiap kepingan puzzle yang berserakan dalam hidupku. Butuh waktu yang lama untuk bisa menyelesaikan puzzle itu menjadi satu bagian utuh yang sempurna. Seharusnya aku tidak berada disini. Seharusnya aku berada dalam rumahku, dibalik kamar tidurku dengan kasur empuk yang membuatku nyaman, meringkuk hangat dengan selimut motif donal bebek berwarna biru kesukaanku, dan terlelap bersama Hazel, kucing himalaya kesayanganku. Tapi nyatanya, dunia seolah berputar begitu cepatnya hingga membuatku terjebak dalam ruangan sempit yang pengap dan membuatku seolah tak lagi hidup. Sekali lagi, aku bisa melihat sejarah kelam yang pernah terjadi dalam hidupku 4 tahun silam. Bak film layar lebar yang telah diputar ratusan kali, kau akan hafal setiap detail cerita dan scene yang terjadi. Aku selalu berharap bahwa ini adalah malam terakhirku menyaksikan film bodoh ini.

                                                                       ***

Aku tak pernah berharap lahir dengan keadaan seperti ini. Andaipun bisa aku memilih lebih baik aku memilih tak pernah bisa merasakan udara bumi ini daripada aku harus ada dengan takdir pahit yang terus menyapaku. Kau tahu, banyak yang bilang aku adalah gadis yang cantik dengan fisik yang kupunya sekarang. Rambutku panjang berwarna hitam legam, alis mataku berbentuk bulan sabit tanpa harus dibentuk dengan pensil alis. Bibirku berwarna merah alami tanpa harus dipulas dengan pewarna bibir. Pipiku merona merah meski agak sedikit chubby. Hidungku mancung sempurna. Mataku berkilau dengan bola mata hitam bagaikan biji buah leci. Kulitkupun begitu putih dan halus. Kau mungkin akan merasa iri dengan gambaran fisikku yang hampir mendekati sempurna andaikata aku tidak terlahir cacat dengan kakiku yang panjang sebelah dan mengharuskanku berjalan pincang. Ya, aku gadis 15 tahun, Renata si pincang. Itulah yang sering mereka sebut untuk memanggil namaku. Ingin sekali rasanya aku memaki mereka. Karena sungguh, demi apapun perkataan dan ejekan mereka sangat menyakiti hatiku. Tapi semakin aku membalas ejekan mereka, semakin menjadi pula ejekan mereka. Karena aku bukan saja pincang, tapi aku juga tak bisa bicara. Aku bisu. Semua yang melihatku seolah jijik dengan apa yang mereka lihat. Aku hanya bayangan hitam yang ada didekat mereka. Aku hanya benalu dalam hidup orang-orang disekitarku. Teman-teman sekolahku, lingkungan tempat tinggalku, bahkan keluargaku.
Pernahkah kalian melihat kucing kurap dengan bulu-bulu mereka yang sudah jarang hingga terlihat kulit tipisnya? Ditambah dengan tubuh ceking dan luka yang entah bekas apa disekitar wajahnya. Menjijikan bukan? Bagi sebagian orang pasti ingin sekali melemparinya dengan gagang sapu, atau benda apapun untuk mengusirnya. Bahkan tak banyak juga yang menyiramnya dengan air panas. Kejam bukan. Seperti itulah aku. Aku hanya seonggok manusia yang hidup dengan perlakuan orang-orang sadis yang menginginkan aku lenyap dari bumi ini. Yang memandangku sebelah mata, yang seolah kehadiranku adalah pertanda sebuah bencana yang maha dahsyatnya. Tak terkecuali keluargaku. Ya, bahkan keluargaku sendiripun tak pernah mengharapkan kehadiranku. Terlebih ibuku. Baginya aku hanyalah daging busuk yang seharusnya dibuang jauh-jauh ketempat sampah dan musnah bersama bangkai tikus got yang membusuk. 15 tahun aku hidup bersamanya, tapi selama itu pula tak pernah sedikitpun kurasakan kasih sayang ibuku padaku. Aku iri melihat Dayu, anak Bik Sri pembantu di rumahku yang usianya 3 tahun lebih muda dariku. Secara finansial hidupnya jauh dari kata cukup. Berbeda denganku yang memiliki banyak fasilitas dan uang yang bisa kugunakan untuk apa saja. Tapi Dayu memiliki seorang ibu yang teramat sangat menyayanginya. Tak pernah lupa Bik Sri menyiapkan bekal untuk sekolah anaknya setiap pagi. Dan selalu menciumnya hangat saat Dayu berpamitan berangkat sekolah. Sedangkan aku? Setiap pagi saat sarapan aku tak pernah melihat ibuku ada bersama dalam satu meja makan menikmati menu untuk mengganjal perut kami mengawali aktivitas. Ingin sekali aku bertanya pada ayahku. Karena hanya dia yang kuingat selalu berusaha melindungi dan menyayangiku. Ayah hanya tersenyum saat aku menatapnya dan seolah bertanya, 'dimana ibu? kenapa tak sarapan bersama dengan kita?'
"Ibumu ada urusan pekerjaan yang mengharuskannya pergi pagi-pagi dan tak sempat sarapan bersama kita"
Ah ayah, kau selalu tahu apa yang ada dalam pikiranku. Tapi sayang, kau tak pernah tahu bahwa aku telah hafal dengan jawaban itu. Karena sejak aku mengerti kosakataku dan bertanya kemana ibu tiap pagi hingga tak sempat sarapan dengan kita, selalu jawaban itu yang kau lontarkan dari mulut bijakmu. Tapi tak apa, lagipula aku telah terbiasa hidup dengan duniaku.
Aku lebih banyak diam didalam mobil saat ayah mengantarkanku berangkat sekolah. Karena aku memang lebih suka 'diam' meski sebenarnya aku begitu ingin berbicara. Menanyakan banyak hal yang selalu aku pendam sendiri. Seperti, mengapa dasi yang ayah pakai selalu saja berwarna hitam? Atau, bisakah suatu saat nanti aku mengenakan pakaian seperti yang ayah pakai? Karena jujur saja, aku sangat mengagumi ayahku saat berpakaian seperti itu.
Gerbang sekolah terlihat begitu jelas dengan tulisan besar yang terpampang "SELAMAT DATANG DI SMP GRACEVA". Hanya anak perempuan yang bisa merasakan megahnya bersekolah di SMP Graceva, dan yang pasti mereka harus berduit untuk bisa menjadi siswinya. Sekolahku adalah salah satu SMP favorit di kotaku dengan orang-orang sosialita dan konglomerat yang menyekolahkan anaknya disitu. Karena memang biaya sekolah itu sangat mahal. Akupun heran kenapa ayahku memasukkanku ke sekolah pemeras itu? Meski kutahu harta ayahku tak akan habis jika seandainya dia menyekolahkan 10 atau belasan anak seusiaku di sekolah itu. Ah lupakan tentang biaya itu. Karena sejujurnya aku sangat membenci sekolah itu. Bagaimana tidak? Sekolah yang seharusnya menjadi tempat menuntut ilmu beralih menjadi tempat menuntut popularitas dan kekuasaan. Siapa yang memiliki mobil mewah yang canggih, siapa yang memiliki gadget terbaru, siapa yang berlibur ke eropa, dialah yang terpintar. Sebuah manipulasi harta untuk pendidikan.
Aku lebih membencinya karena bagiku sekolah itu tak ubahnya seperti rumah sakit jiwa yang didalamnya hanya berisi orang-orang congkak dan bodoh. Seperti Inge, teman sekelasku yang hobinya memamerkan koleksi berliannya yang membuatku bersumpah agar berlian itu lenyap dan berganti dengan baja berkarat. Aku membencinya, teramat sangat. Karena sepanjang hari dalam seminggu, dalam sebulan, dan dalam 3 tahun aku bersekolah disini pekerjaannya hanya meledekku. Menyakitiku dengan kata-kata pedas yang begitu fasih keluar dari bibir kotornya. Entah makhluk jenis apa yang telah bisa membesarkan monster betina menjijikan itu. Seperti saat ini, dia dengan sengaja menjulurkan kakinya saat aku tengah tertatih berjalan menuju kelas dan membuatku tersungkur. Dia terbahak dan meninggalkanku yang masih menyatu dengan tanah. Seperti seeokor harimau yang telah puas menerkam mangsanya dan pergi tanpa memperdulikan mangsanya yang tengah terkoyak. Aku benci dia. Sekali lagi, teramat benci.

Ayahku adalah laki-laki yang sempurna dimataku. Aku sangat mengaguminya. Mungkin kau bosan dengan pemujaanku padanya, dan dengan betapa seringnya aku mengucapkan bahwa aku teramat sangat menyayanginya. Dia tak akan pernah membiarkan seekor semut kecil menggigitku. Dia selalu memberikan waktunya untukku. Mendengarkan banyak hal yang kuceritakan. Atau lebih tepatnya memperhatikanku menarikan tangan dan jemariku agar aku bisa berkomunikasi dengannya. Sudah kukatakan bukan, jika aku adalah gadis bisu? Jadi bukan hal yang aneh jika aku berbicara menggunakan bahasa isyarat yang hanya aku dan ayahku yang mengerti. Karena bersamanya aku mempelajari hal itu. Kami selalu bertukar cerita setiap malam. Tentang cerita sehari yang kami lalui masing-masing. Dan ayah selalu mengakhirinya dengan mencium hangat keningku dan berkata, "selamat malam bidadari kecilku, mimpi indah tuan putri". Oh ayah, betapa aku mencintai dan menyayangimu. Ayah juga selalu mengajakku pergi ke taman kota tiap sore di akhir pekan. Mengajakku menikmati kembang api di sabtu malam. Mengajakku kemana saja tempat-tempat yang indah. Bersamanya aku bisa merasakan bahwa aku hidup, dan tidak sendirian. Aku seolah lupa dengan apa yang telah orang-orang lakukan padaku. Dengan olokan-olokan mereka, dan dengan kejadian menyakitkan di sekolah terkutuk itu, dan bahkan dengan perlakuan kasar ibu kandungku sendiri.
Kalian tahu, ibuku sangat berbeda dengan ayah. Dia tak pernah mau untuk menciumku, menyentuhku, atau bahkan hanya sekedar menatapku. Baginya aku tak lebih dari bangkai busuk yang menjijikan. Aku tak pernah tahu kenapa ibuku bersikap seolah-olah aku tidak ada. Jelas-jelas aku adalah anak kandungnya. Tapi rupanya kehadiranku adalah aib besar dalam hidupnya. Terlebih dalam hidupnya bersama teman-teman sosialitanya. Pernah ibuku secara terang-terangan tak mengakuiku sebagai putrinya. Saat para sosialita itu berkunjung ke rumah, dan aku tengah bermain sendiri dengan mainanku. Saat itu usiaku masih 6 tahun. Tapi aku masih bisa mengingat ketika ibuku bilang bahwa aku adalah anak gembel yang cacat yang tak sengaja dipungut oleh ayah dan untuk sementara tinggal di rumahnya. Oh, kau tahu bagaimana rasanya tertusuk pisau tajam dan menembus hingga danging terdalam? Mungkin itu terasa sangat perih dan menyakitkan. Tapi apa yang kurasakan saat itu lebih menyakitkan dari apa yang kugambarkan tadi. Bagaimana bisa ibuku sendiri tak mengakui sebagai anak? Darah dagingnya sendiri? Tapi aku tak pernah membencinya sampai sekarang.
Hingga pada suatu malam saat aku menantikan ayahku membuka pintu kamarku dan mengajakku bercerita, aku mendengar ada keributan dari lantai bawah rumahku. Aku coba melihatnya meski sebenarnya aku merasa takut. Aku melihat ibuku tengah beradu mulut dengan ayah. Aku tak mengerti apa yang mereka ributkan. Aku hanya mendengar bahwa ibu menginginkanku untuk pergi dari rumah ini, dan dari kehidupan mereka. Seperti yang kau tahu, aku adalah aib untuk ibuku. Ayah sangat marah mendengar permintaan ibu. Tak pernah kulihat ayah seseram itu wajahnya. Dengan muka merah padam, ayah ayunkan tangan kanan ayah dan mendarat tepat dipipi ibu hingga meninggalkan jejaknya. Aku semakin tak mengerti dengan apa yang kulihat sekarang. Dan entah iblis jenis apa yang merasuki ibuku yang dengan cekatan menggapai sebuah pisau yang biasa dipakai untuk mengupas buah dan menusukkannya tepat mengenai hati ayah. Ayah limbung, aku bisa melihat darah yang mengalir karena pisau itu. Ingin sekali aku menjerit dan berteriak memanggil nama ayah. Semakin kucoba, hanya suara parau yang teramat lirih yang bisa kuucap dan hilang seketika bersama angin malam yang mencekam.
Aku berlari sekuat tenaga meski dengan tertatih menuruni setiap anak tangga yang biasanya kulewati begitu cepat tapi sekarang kurasakan anak tangga ini semakin bertambah dan membuatku tak kunjung sampai.
Aku bersimpuh disamping ayah, menatap nanar ayahku yang telah bersimbah darah. Aku berusaha mencabut pisau yang masih menancap diperutnya. Kupeluk dia sekuat yang aku bisa. Dan masih jelas kurasakan desah nafas terakhirnya yang berhembus tepat disamping telingaku. Ayahku telah pergi, selamanya. Meninggalkanku sendiri dengan sejuta pertanyaan yang belum sempat kutanyakan padanya.
Entah sejak kapan warga sekitar berhamburan menyesaki ruang tamu rumahku. Dan entah siapa yang memanggil pihak polisi yang bisa secepat kilat ada dihadapanku.
Aku melihat polisi itu berusaha menyadarkan ibuku dari tatapan kosongnya sejak dia menusukkan pisau pada ayah, dan menyalaminya. Ibuku histeris, menangis, meraung, dan menunjuk ke arahku. Aku ingat ibuku bilang bahwa aku yang telah membunuh ayahku. Akulah yang menusukkan pisau itu padanya karena aku memiliki gangguan mental. Oh ibu, betapa kejamnya kau menuduhku membunuh ayahku sendiri. Sosok yang begitu kubanggakan, kusayang dan kupuja. Bagaimana mungkin?
Tak ayal merekapun membawaku bersamanya. Aku meronta, aku tak ingin pergi bersama polisi itu dengan tuduhan keji ini. Ayah sayang, bangunlah, tolonglah aku. Lihatlah gadismu tengah dibawa paksa oleh tangan-tangan kasar ini. Bangunlah ayah! Sekilas kulihat ibuku tersenyum penuh arti. Mungkin dia senang karena dia bisa terbebas dari tuduhan sebenarnya. Atau lebih tepatnya dia lebih senang karena akhirnya aku bisa lenyap dari hidupnya. Dan sejak itu aku sangat membencinya melebihi rasa benciku pada Inge.

                                                          ***

Inilah aku akhirnya, berada dalam sebuah ruangan kecil yang hanya terdapat sebuah tempat tidur yang kasurnya tak lagi empuk. Tak pernah lagi ada cerita seperti saat bersama ayahku diatas kasur empukku dengan selimut donal bebek. Bertahun-tahun terkurung dalam ruangan pengap ini karena polisi ternyata berasumsi bahwa aku memiliki kelainan jiwa seperti apa yang dikatakan ibuku. Bukan penjara dengan orang-orang bengis didalamnya yang kutempati sekarang. Tapi sebuah rumah sakit yang orang menyebutnya rumah sakit jiwa dengan penghuninya yang kebanyakan memiliki gangguan mental. Tapi tidak denganku, tak seharusnya aku berada dalam bilik menyeramkan ini. Sekali lagi, seharusnya aku ada dalam kamar hangatku dan bercerita banyak hal dengan ayahku. Tak ada siapapun. Tak ada yang mengunjungiku dan mengajakku bercerita. Hanya suster dan dokter yang setiap hari memberiku obat dan suntikan yang justru membuatku semakin tersiksa. Dimana ibuku? Menurut berita yang kubaca di koran rumah sakit satu bulan yang lalu ibuku dimasukkan ke rumah sakit jiwa dan divonis menderita gangguan jiwa. Ibuku sering berteriak histeris memanggil namaku dan ayahku. Kelakuannya bagaikan seorang yang telah berbuat dosa besar. Ya, dosanya membunuh ayahku, dan dosanya membenciku dalam hidupnya hingga tega memasukkanku dalam ruang penyiksaku ini. Bagiku itu adalah balasan atas apa yang telah dia perbuat pada ayahku, dan terlebih padaku.
Aku meraih sebuah pisau disamping keranjang buah disamping tempat tidurku. Mengamatinya perlahan, dan dengan halus kusapukan mata pisau itu hingga memotong urat nadiku. Masih bisa kulihat darah segar mengalir dari pergelangan tanganku. Samar-samar kulihat cahaya yang menyilaukan dan tampak sosok laki-laki yang sangat kusayang. Kulihat ayahku mengulurkan tangannya dan mengajakku pergi dengannya ke tempat yang indah seperti yang dulu sering dia lakukan padaku. Kuraih tangannya dan berjalan bersamanya hingga kami sampai di sebuah tempat yang sangat indah melebihi tempat terindah yang pernah ayah tunjukkan padaku. Itu adalah tempat terindah yang ayah ajak aku untuk mengunjunginya. Disana kami membangun lagi hidup kami yang lebih indah, dan dengan cerita-cerita yang indah pula. Dan tahukah kalian, aku kini bisa berjalan normal seperti ayahku. Kami sering melakukan lomba lari, dan aku selalu menjadi pemenangnya. Dan aku kini bisa bicara normal seperti ayah. Sehingga pertanyaan-pertanyaan itu telah kutanyakan pada ayah dan kudapatkan jawabannya. Dan pertanyaanku yang dulu hanya bisa dijawab ayah dengan senyuman sembari mengelus kepalakupun terjawab sudah. Mengapa ibu seolah benci dan tak pernah menginginkanku? Karena aku begitu indah, dan hanya hal yang terindah pula yang bisa menerima keberadaanku.

*uciuchyuchie*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar